Site icon Zona Sulawesi

Riska, Guru di Pelosok Parimo Jalankan MBG Mandiri untuk Siswa SD Kecil Ogolau

Guru PPG Prajabatan yang mengajar di SD Kecil Ogolau, Riska Andriani, (Foto: IST).

PARIGI MOUTONG, ZonaSulawesi.id – Kepedulian seorang guru terhadap kondisi siswanya di wilayah pelosok Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menjadi perhatian setelah video aksi berbagi makanan kepada murid-muridnya viral di media sosial.

Guru PPG Prajabatan yang mengajar di SD Kecil Ogolau, Riska Andriani, terlihat menyiapkan dan membagikan makanan kepada para siswa melalui kegiatan yang disebutnya sebagai “MBG Mandiri”.

Inisiatif tersebut dilakukan lantaran sekolah tempatnya mengajar hingga kini belum terjangkau program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Letak SD Kecil Ogolau yang berada di kawasan perbukitan merupakan dusun terpencil yang terletak di Desa Tibu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. dengan akses jalan yang cukup sulit diduga menjadi salah satu kendala dalam pendistribusian program MBG ke sekolah tersebut.

Kondisi itu mendorong Riska bersama para guru untuk tetap berupaya menghadirkan makanan bagi siswa, khususnya mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Riska menjelaskan, kegiatan tersebut sebenarnya bukan program yang sejak awal dirancang atau dibiayai sendiri olehnya. Ia hanya meneruskan bantuan dari sejumlah teman di media sosial yang tergerak untuk berbagi kepada anak-anak di wilayah pelosok.

Sebelum memperoleh dukungan dari para donatur, Riska mengaku menggunakan uang pribadinya untuk membeli susu dan makanan ringan bagi siswa.

Menurutnya, keputusan tersebut berawal dari kepeduliannya setelah mengetahui kondisi ekonomi sebagian siswa yang bahkan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan.

“Awalnya saya hanya berbagi susu dan snack menggunakan dana pribadi saya karena saat itu habis gajian,” ujar Riska, dikutip dari Kompas.com, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan berbagi makanan tersebut kemudian didokumentasikan dan diunggah ke media sosial. Riska mengaku tidak menyangka unggahan itu mendapat perhatian luas.

Sejumlah teman di media sosial kemudian menunjukkan kepedulian dan menawarkan bantuan untuk mendukung kegiatan tersebut.

Riska menyebut sekolahnya menjadi salah satu sekolah yang belum tersentuh program MBG di wilayah desanya. Kondisi tersebut membuat sejumlah orang tergerak memberikan bantuan secara sukarela.

Saat ini, kebutuhan pelaksanaan “MBG Mandiri” disebut sepenuhnya berasal dari donasi. Bantuan tersebut digunakan untuk membeli bahan makanan, gas, perlengkapan memasak hingga biaya mobilisasi menuju lokasi sekolah yang berada di kawasan perbukitan.

Riska menegaskan dirinya tidak secara khusus melakukan penggalangan dana untuk kegiatan tersebut. Menurutnya, para donatur datang atas inisiatif sendiri setelah melihat kondisi para siswa.

“Pembiayaan 100 persen dari donatur,” kata Riska sebagaimana diberitakan Kompas.com.

Kegiatan makan bersama tidak dilaksanakan setiap hari. Dalam satu pekan, program tersebut maksimal dilakukan tiga kali.

Pada hari lainnya, Riska tetap berupaya menyiapkan bekal berupa susu dan makanan ringan bagi para siswa.

Proses memasak juga dilakukan secara bergantian oleh para guru. Ketika para guru memiliki kesibukan, kegiatan memasak dapat dibantu oleh wali murid.

“Kami guru masak secara bergantian atau saat banyak kesibukan, saya titip untuk masak di wali murid,” ujarnya.

Kisah Riska dan para guru di SD Kecil Ogolau tersebut menjadi gambaran kepedulian tenaga pendidik di daerah pelosok dalam memenuhi kebutuhan siswa, sembari menunggu akses program MBG dapat menjangkau sekolah mereka.

Exit mobile version