Penulis: Titan Linggastiwi, S.KedF
akultas Kedokteran Universitas Alkhairaat Palu
Palu, Februari 2025 – Tuberkulosis (TB) adalah tantangan kesehatan global yang
signifikan. Organisasi Kesehatan Dunia telah menetapkan tujuan untuk mengurangi kejadian
TB hingga 90% antara tahun 2015 dan 2035. Namun, diagnosis, pengobatan, dan pencegahan TB menghadirkan kesulitan besar. Sebelum pandemi COVID-19, TB adalah penyakit menular yang paling umum di seluruh dunia. Agen penyebabnya, Mycobacterium
tuberculosis, telah menjangkiti manusia selama ribuan tahun. Pendekatan diagnostik seperti
uji kulit Mantoux dan uji pelepasan interferon-gamma memiliki keterbatasan. Meski
kemajuan seperti uji amplifikasi asam nukleat molekuler telah meningkatkan akurasi
diagnostik, aksesibilitasnya masih terbatas di banyak wilayah dengan prevalensi tinggi.
Pengembangan dan penerapan uji diagnostik baru bertujuan untuk meningkatkan deteksi
TB.
Pencegahan dan manajemen TB yang efektif memerlukan upaya terkoordinasi antara pejabat
kesehatan masyarakat, dokter perawatan primer, dan spesialis. Ini menekankan perlunya
infrastruktur kesehatan masyarakat yang kuat dan kolaborasi interprofesional untuk
mencapai tujuan pengendalian dan eliminasi TB global.
Etiologi dan Penularan
Mycobacterium tuberculosis adalah patogen manusia utama, meskipun M. bovis, M.
africanum, dan M. canettii juga dapat menginfeksi manusia. Bakteri ini bersifat aerobik,
tidak membentuk spora, dan tidak motil, serta memiliki waktu generasi sekitar 20 jam.
Manusia adalah satu-satunya reservoir M. tuberculosis yang diketahui. Penularan terjadi saat
penderita TB paru BTA positif berbicara, bersin, atau batuk, menghasilkan droplet nuclei
yang mengandung bakteri. Bakteri ini dapat terhirup oleh orang sehat dan menyebabkan infeksi.
Faktor Risiko
Faktor risiko TB meliputi :
1. Umur : Kasus tertinggi terjadi pada usia produktif (15-49 tahun).
2. Jenis Kelamin : Lebih banyak menyerang laki-laki, terutama yang merokok.
3. Kebiasaan Merokok : Menurunkan daya tahan tubuh.
4. Pekerjaan : Risiko tinggi untuk tenaga kesehatan dan pabrik.
5. Status Ekonomi : Pendapatan rendah seringkali tidak memenuhi syarat kesehatan.
6. Faktor Lingkungan : Rumah dengan pencahayaan buruk dan kelembapan tinggi.
Gejala Klinis
Gejala umum TB termasuk penurunan berat badan selama tiga bulan tanpa sebab jelas,
demam lebih dari sebulan, batuk lebih dari dua minggu, nyeri dada, sesak napas, dan dahak
berdarah. Gejala tidak spesifik dan sering sulit didiagnosis, terutama pada TB ekstra paru.
TB laten tidak menunjukkan gejala, sedangkan TB aktif dapat berkembang dengan batuk,
demam, dan keringat malam. Diagnosis dini penting untuk pengobatan yang efektif.
Skrining Tuberkulosis (TB)
Pemeriksaan Bakteriologis :
Semua pasien yang dicurigai menderita TB harus menjalani pemeriksaan bakteriologis
untuk mengonfirmasi penyakit TB. Pemeriksaan ini meliputi apusan dari sediaan biologis
(seperti dahak), pemeriksaan biakan, dan identifikasi Mycobacterium tuberculosis
menggunakan metode diagnostik cepat yang direkomendasikan oleh WHO. Di daerah
dengan laboratorium yang terpantau mutunya, TB Paru BTA positif dapat ditegakkan jika
hasil pemeriksaan BTA menunjukkan positif, minimal dari satu spesimen. Namun, di daerah
dengan laboratorium yang tidak terpantau, diperlukan minimal dua spesimen dengan hasil
BTA positif.
WHO merekomendasikan pemeriksaan biakan dan uji kepekaan minimal terhadap
rifampisin dan isoniazid pada kelompok berikut :
1. Pasien dengan riwayat pengobatan OAT.
2. Pasien HIV dengan TB aktif, terutama di daerah dengan prevalensi TB resistan obat
tinggi.
3. Pasien TB aktif yang terpapar pasien TB resistan obat.
4. Pasien baru di daerah dengan kasus TB resistan obat primer >3%.
5. Pasien dengan sputum BTA tetap positif setelah fase intensif.
Metode Pemeriksaan :
1. Metode Konvensional : Menggunakan medium padat (Lowenstein Jensen atau Ogawa)
dan media cair MGIT. Media cair lebih cepat (sekitar 2 minggu) dibanding medium padat
(28-42 hari).
2. Metode Cepat : Uji molekular cepat seperti Xpert MTB/RIF yang mendeteksi resistansi
rifampisin dan SL-LPA untuk resistansi obat lini kedua.
Pemeriksaan Tambahan
Setiap pasien TB yang terkonfirmasi harus menjalani pemeriksaan HIV dan gula darah.
Pemeriksaan tambahan seperti fungsi hati dan ginjal dilakukan sesuai indikasi.
Konfirmasi dan Pencitraan :
Konfirmasi TB aktif memerlukan kultur, meskipun sering sulit karena tantangan praktis.
Teknik pencitraan seperti Rontgen dada, CT, MRI, dan PET-CT digunakan untuk
menentukan keterlibatan anatomi. Fitur pencitraan TB tidak spesifik dan bisa menyerupai
penyakit lain.
Mikroskopi, Kultur, dan Analisis Molekuler
Kultur sputum dan apusan BTA adalah pendekatan konvensional untuk diagnosis TB.
NAAT otomatis dan biomarker real-time memainkan peran penting dalam proses
diagnostik.
Prinsip Pengobatan
Pengobatan TB menggunakan obat anti-tuberkulosis (OAT) yang harus:
– Mengandung minimal 4 macam obat
– Diberikan dalam dosis tepat
– Dikonsumsi secara teratur dan diawasi oleh PMO
– Diberikan dalam jangka waktu yang cukup
Tahapan Pengobatan
1. Tahap Awal : Dilakukan setiap hari selama 2 bulan untuk menurunkan jumlah kuman.
2. Tahap Lanjutan : Berlangsung 4 bulan untuk membunuh kuman persisten.
Pencegahan dan Edukasi
– Vaksinasi BCG : Vaksin BCG penting untuk mencegah TB berat, tetapi tidak
diberikan pada anak dengan HIV karena risiko BCG-itis diseminata.
Kesimpulan
TB adalah infeksi serius yang memerlukan deteksi dini melalui skrining efektif. Skrining
berperan penting dalam menemukan kasus TB, memungkinkan pengobatan dini, dan
meningkatkan kesehatan masyarakat. Skrining, diagnosis, dan pengobatan terkoordinasi
dapat mengurangi beban penyakit TB secara signifikan
DAFTAR PUSTAKA
1. Tobin EH, Tristram D. Tuberculosis Overview [Internet]. StatPearls.
2025. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10376668
2. Lalvani A, Whitworth HS. Progress in interferon-gamma release
assay development and applications: an unfolding story of
translational research. Annals of Translational Medicine [Internet].
2019 Jul;7(S3):S128–S128. Available from:
http://atm.amegroups.com/article/view/26457/24607doi:10.21037/at
m.2019.05.76
3. Jilani TN, Avula A, Zafar Gondal A, Siddiqui AH. Active
Tuberculosis [Internet]. StatPearls. 2025. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/32182274
4. Tamunu M sarra, Pareta DN, Hariyadi H, Karauwan FA. Skrining
Fitokimia Dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Benalu Pada
Kersen Dendrophtoe pentandra (L.) Dengan Metode 2,2- diphenyl -1-
Picrylhydrazyl (DPPH). Biofarmasetikal Tropis. 2022;5(1):79–82.
doi:10.55724/jbiofartrop.v5i1.378
5. Bigi MM, Forrellad MA, García JS, Blanco FC, Vázquez CL, Bigi F.
An Update on Mycobacterium Tuberculosis Lipoproteins. Future
Microbiology [Internet]. 2023 Dec 14;18(18):1381–98. Available
from: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.2217/fmb-2023-
0088doi:10.2217/fmb-2023-0088
6. Sigalingging IN, Hidayat W, Tarigan FL. Pengaruh Pengetahuan,
Sikap, Riwayat Kontak Dan Kondisi Rumah Terhadap Kejadian Tb
Paru Di Wilayah Kerja Uptd Puskesmas Hutarakyat Kabupaten Dairi
Tahun 2019. Jurnal Ilmiah Simantek. 2019;3(3):87–99.
7. Kenedyanti E, Sulistyorini L. Analisis Mycobacterium Tuberculosis
Dan Kondisi Fisik Rumah Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru.
Jurnal Berkala Epidemiologi. 2017;5(2):152–62.
doi:10.20473/jbe.v5i2.2017.152-162
8. Kristini T, Hamidah R. Potensi Penularan Tuberculosis Paru pada
Anggota Keluarga Penderita. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia
[Internet]. 2020 May 28;15(1):24. Available from:
https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/jkmi/article/view/5830doi:10.26
714/jkmi.15.1.2020.24-28
9. Budi IS, Ardillah Y, Sari IP, Septiawati D. Analisis Faktor Risiko
Kejadian penyakit Tuberculosis Bagi Masyarakat Daerah Kumuh
Kota Palembang. JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN
INDONESIA [Internet]. 2018 Oct 1;17(2):87. Available from:
https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli/article/view/18026doi:10.1
4710/jkli.17.2.87-94
10.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional
Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis. 2020;
11.Rahmah S, Indriani C, Wisnuwijoyo AP. Skrining Tuberkulosis (Tb)
Paru. Jurnal Kesehatan Manarang. 2018;3(2):69.
doi:10.33490/jkm.v3i2.39
12.Madona A, Pratiwi EC, Adi MAB, Nugraha RP, Qinaya ZP, Arifah I,
et al. Skrining Penyakit Menular Tuberculosis Pada Masyarakat di
Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo. Prosiding Seminar
Kesehatan Masyarakat. 2023;1(Oktober):191–200.
doi:10.26714/pskm.v1ioktober.255






