Scroll Untuk Membaca Artikel
ZONA Parigi MoutongZONA Pendidikan

DKP Parimo Edukasi Siswa SD Inpres Masigi tentang Pangan Lokal dan Stop Boros Pangan

29
×

DKP Parimo Edukasi Siswa SD Inpres Masigi tentang Pangan Lokal dan Stop Boros Pangan

Sebarkan artikel ini

PARIGI MOUTONG, ZonaSulawesi.id – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Parigi Moutong memberikan edukasi kepada guru dan peserta didik SD Inpres Masigi, Kecamatan Parigi, mengenai pentingnya penerapan pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) berbasis pangan lokal.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya DKP Parimo untuk memperkenalkan berbagai sumber pangan lokal sekaligus mendorong masyarakat, khususnya anak-anak, agar tidak hanya bergantung pada beras sebagai bahan pangan utama.

Kepala DKP Parimo, Sofiana Pandean, menjelaskan bahwa pemanfaatan pangan lokal memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Selain memenuhi kebutuhan gizi, pemanfaatan komoditas lokal juga dinilai dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.

Menurutnya, pemahaman mengenai pangan lokal perlu ditanamkan sejak usia sekolah agar anak-anak terbiasa mengenal dan mengonsumsi makanan yang beragam.

“Sosialisasi pangan lokal ini sangat penting agar anak-anak kita dapat mengetahui jenis pangan lokal yang harus dikonsumsi,” kata Sofiana.

Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras. Karena itu, menu Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan dapat dikombinasikan dengan berbagai komoditas lokal, seperti ubi-ubian, jagung maupun bahan pangan daerah lainnya.

Sofiana berharap konsumsi pangan yang beragam dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi anak secara seimbang. Asupan tersebut, kata dia, sangat dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan fisik sekaligus perkembangan otak peserta didik.

Selain edukasi B2SA, DKP Parimo turut memperkenalkan gerakan Stop Boros Pangan. Gerakan ini ditujukan untuk membangun kesadaran anak-anak agar mengambil makanan sesuai kebutuhan dan tidak menyisakan makanan.

Sofiana mengatakan, pembiasaan tersebut sengaja dimulai dari lingkungan sekolah karena anak-anak dapat menjadi bagian penting dalam menyebarkan kebiasaan positif tersebut hingga ke lingkungan keluarga.

“Program ini kami mulai dari sekolah dasar. Kami edukasikan kepada peserta didik untuk menanamkan kebiasaan mengambil makanan secukupnya dan menghabiskan sesuai yang mereka ambil,” ujarnya.

Ia menilai, ketika kebiasaan tersebut sudah tertanam pada peserta didik, pesan mengenai pentingnya menghindari pemborosan makanan juga dapat diteruskan kepada orang tua. Dengan demikian, perubahan pola konsumsi tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di lingkungan rumah.

Sofiana mengungkapkan, sosialisasi Stop Boros Pangan idealnya dilaksanakan di seluruh sekolah yang ada di Kabupaten Parigi Moutong. Namun, keterbatasan anggaran akibat efisiensi membuat DKP untuk sementara melakukan kegiatan dalam bentuk uji petik di SD Inpres Masigi.

“Program Stop Boros Pangan ini harusnya menyasar ke semua sekolah, tetapi kami juga terkendala dengan anggaran,” jelasnya.

Ke depan, DKP Parimo berencana memperkuat koordinasi dengan Dinas Pendidikan agar edukasi mengenai pangan lokal, pola konsumsi B2SA dan gerakan Stop Boros Pangan dapat diperluas ke sekolah-sekolah lainnya di Kabupaten Parigi Moutong.