Scroll Untuk Membaca Artikel
ZONA Parigi Moutong

Di Antara Mesin dan Cangkul: Tambang sebagai Penopang Hidup Warga

960
×

Di Antara Mesin dan Cangkul: Tambang sebagai Penopang Hidup Warga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi penambang tradisional, Foto: IST.

PARIMO, ZonaSulawesi.id — Aktivitas pertambangan kerap dipandang dari sisi kerusakan lingkungan semata. Debu beterbangan, suara alat berat menggelegar, dan bentang alam yang berubah menjadi sorotan utama. Namun di balik gambaran tersebut, ada cerita lain yang tumbuh di tengah masyarakat: tambang sebagai sumber penghidupan.

Di salah satu kawasan pertambangan di pedalaman, kehidupan berjalan berdampingan antara penambang tradisional dan pelaku usaha dengan peralatan modern. Setiap pagi, suara mesin excavator berpadu dengan bunyi linggis dan palu. Dua cara kerja berbeda, namun berada dalam ruang yang sama.

Seorang penambang tradisional, sebut saja Jaka, mengaku menggantungkan kebutuhan keluarganya dari aktivitas tersebut. Baginya, tambang bukan sekadar lokasi kerja, melainkan sumber biaya sekolah anak dan kebutuhan dapur sehari-hari. “Kalau bukan dari sini, kami mau kerja apa lagi?” tuturnya.

Menariknya, keberadaan perusahaan dengan alat berat tidak sepenuhnya menyingkirkan penambang rakyat. Dalam praktiknya, alat berat membuka akses dan mengupas lapisan tanah, sementara para penambang tradisional memanfaatkan material sisa atau titik-titik yang tak tersentuh mesin. Interaksi di lapangan pun berlangsung cukup cair, dengan imbauan keselamatan kerja yang kerap disampaikan demi menghindari risiko kecelakaan.

Dampak ekonomi dari aktivitas tambang juga terasa di sekitar lokasi. Warung makan bermunculan melayani para pekerja, bengkel motor ramai oleh kendaraan operasional, hingga pasar tradisional yang lebih hidup karena meningkatnya daya beli masyarakat. Roda ekonomi lokal berputar lebih cepat dibanding sebelumnya.

Meski demikian, isu lingkungan tetap menjadi perhatian. Tantangan terkait reklamasi dan pengelolaan dampak ekologis menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan. Sejumlah pihak menilai, keseimbangan antara manfaat ekonomi dan tanggung jawab lingkungan harus menjadi komitmen bersama.

Bagi para penambang tradisional, setiap hari adalah perjuangan mempertahankan penghasilan. Di bawah terik matahari, mereka bekerja dengan peralatan sederhana, berdampingan dengan mesin-mesin besar milik perusahaan. Ketika senja datang dan aktivitas berhenti, mereka pulang membawa harapan agar esok tetap ada ruang untuk mencari nafkah.

Di tengah pro dan kontra, tambang bagi warga setempat bukan hanya soal eksploitasi sumber daya, melainkan soal keberlangsungan hidup ratusan keluarga yang menggantungkan masa depan di sana.