PARIMO, ZonaSulawesi.id – Duka mendalam menyelimuti keluarga AWS (14), seorang santri asal Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, yang meninggal dunia pada Selasa, 14 Oktober 2025. Kematian pelajar kelas 1 SMP itu kini menimbulkan tanda tanya besar, setelah muncul dugaan bahwa ia menjadi korban bullying oleh sejumlah kakak kelasnya di pondok pesantren (Ponpes) tempat ia menimba ilmu.
Kisah tragis ini mencuat ke publik setelah beredar di media sosial. Dalam unggahan yang viral di Facebook, keluarga korban mengungkap dugaan adanya kekerasan fisik yang dialami AWS sebelum meninggal dunia.
Cerita Sebelum Meninggal: “Kalau Tidak Cuci Pakaian, Dipukul Kakak Kelas”
Dugaan perundungan itu terungkap dari cerita AWS kepada ayahnya, NWR (47), saat jadwal kunjungan orang tua di Ponpes. Kepada sang ayah, AWS mengaku kerap dipukul dan dijambak oleh enam orang kakak kelasnya hanya karena hal sepele.
“Kalau anak saya tidak mencuci pakaian atau tidak bisa traktir, dia dipukul. Bapaknya suruh lapor ke guru, tapi anak saya takut karena diancam,” ungkap ibu sambung korban, RS (42), kepada media ini, Rabu (15/10/2025).
Kondisi Tubuh Melemah, Alami Pembengkakan dan Sesak Napas
Usai kejadian itu, kondisi kesehatan AWS menurun drastis. Ia sempat dirawat di puskesmas selama dua hari, 8–10 Oktober 2025, lalu dipulangkan karena dianggap membaik. Namun, sesampainya di rumah, ia kembali mengeluh nyeri, demam, dan muntah-muntah.
Pada Senin (13/10/2025), korban kembali dilarikan ke puskesmas karena mengalami sesak napas dan pembengkakan pada tubuh. Dokter kemudian menyarankan agar AWS dirujuk ke RSUD Raja Tombolotutu, Kecamatan Tinombo, karena kondisi organ dalamnya mulai melemah.
Setelah dirujuk, AWS sempat menjalani pemeriksaan lanjutan. Namun pada malam harinya, kondisinya kembali kritis. Ia sempat mengigau menyebut nama beberapa orang yang diduga melakukan kekerasan, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pukul 03.15 WITA.
“Saat dimandikan, ada luka lebam di beberapa bagian tubuh. Kami tidak terima, karena jelas ada tanda-tanda kekerasan,” tegas RS.
Keluarga Tempuh Jalur Hukum
Keluarga AWS kemudian melaporkan kasus ini ke Polda Sulawesi Tengah, Selasa (14/10/2025) siang. Jenazah korban telah diautopsi di RS Bhayangkara Palu untuk memastikan penyebab kematiannya.
Selain itu, keluarga juga meminta pendampingan hukum dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
“Saya akan berjuang sampai tuntas. Anak saya penurut, tidak mungkin meninggal begini kalau tidak ada penyebabnya,” ujar RS penuh emosi.
Pihak Ponpes: Tidak Ada Bullying, Semua Santri Sudah Diperiksa
Menanggapi tudingan tersebut, pimpinan Ponpes, AHWG, menegaskan bahwa tidak ada kekerasan di lingkungan pesantrennya. Ia mengaku langsung menindaklanjuti kabar itu dengan memanggil para santri yang disebut terlibat dan meminta klarifikasi di hadapan aparat kepolisian.
“Semua santri sudah kami periksa. Mereka bahkan membuat pernyataan tidak melakukan kekerasan, disaksikan Kasat Intel. CCTV Ponpes juga sudah kami serahkan ke pihak kepolisian,” jelas AHWG.
Ia menambahkan, korban sempat izin berobat pada 8 Oktober 2025 dan saat dijemput kondisinya masih sehat. Pihak Ponpes juga mendapat kabar bahwa korban dirawat karena malaria dan DBD, bukan karena penganiayaan.
“Kami baru tahu kalau kondisinya memburuk setelah dibawa ke rumah sakit lagi. Kami siap mengikuti proses hukum agar semuanya terang benderang,” tegasnya.
Polisi Ambil Rekaman CCTV, Kasus Dalam Penyelidikan
Hingga kini, Polda Sulawesi Tengah masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian AWS. Rekaman CCTV dari Ponpes sudah diamankan sebagai bahan pemeriksaan.
Kasus ini menyita perhatian publik dan memicu desakan agar pemerintah serta lembaga pendidikan keagamaan memperketat pengawasan terhadap santri di lingkungan pesantren.






