Scroll Untuk Membaca Artikel
ZONA DesaZONA Peristiwa

Jembatan Gantung di Desa Bambasiang Parimo Nyaris Putus Akibat Banjir

735
×

Jembatan Gantung di Desa Bambasiang Parimo Nyaris Putus Akibat Banjir

Sebarkan artikel ini
Salah seorang warga melintas di jembatan darurat yang menghubungkan antar dusun di Desa Bambasiang. Foto : DAL/ZonaSulawesi

Parigi Moutong, Zona Sulawesi Hujan deras yang mengguyur Desa Bambasiang, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) pada Jumat (7/7/2023) sekira pukul 00.05 wita, menyebabkan banjir.

Sekitar pukul 01.00 wita dini hari, Jembatan gantung yang menghubungkan antar dusun di Desa Bambasiang nyaris terputus akibat hantaman arus banjir. Selain itu, salah satu rumah warga Desa Bambasiang yang berada di daerah aliran sungai terpaksa di bongkar.

Beruntung pemilik rumah bernama Mutmainah bersama suami dan kedua anaknya dapat menyelamatkan diri dari bencana tersebut.

“Beruntung kami bisa menyelamatkan diri dengan anak-anak,” kata Mutmainah saat ditemui di lokasi banjir di Desa Bambasiang, Sabtu (8/7/2023).

Namun, kata dia, beberapa perabotan rumah tangga miliknya tidak dapat diselamatkan.

“Rumah sudah terancam. Terlihat sudah akan roboh sehingga di inisiatif untuk di Bongkar. Hanya beberapa perlengakapan rumah saja yang bisa di selamatkan, kaya kulkas dapat diangkat semua, sebagian tidak bisa diselamatkan lagi, seperti tabung dengan yang lain,” ucapnya.

Menurutnya, hujan turun dengan intesitas tinggi sebanyak tiga kali.

“Itu nanti hujan yang ketiga kalinya jembatan hampir putus karena hujan turun ada sekitar 3 kali,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Desa (Kades) Bambasiang, Daud Togao menduga debit air di daerah aliran sungai turut meningkat imbas adanya pembabatan hutan di areal pegunungan.

“Pembabatan hutan memang ada di atas. Sudah sampai di mata air, saya juga kan sudah jalan-jalan kesana jadi bagaimana pun air langsung menuju ke got itu lalu turun ke sungai sehingga tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, walaupun banjir tidak seperti ini begitu curah hujan langsung ke sungai,” terang Daud.

Padahal Pemerintah Desa (Pemdes) Bambasiang dan BKSDA telah menghimbau masyarakat yang berada di pegunungan untuk tidak membabat hutan secara serampangan.

Bahkan, kata Daud, terdapat patokan sebagai penanda batasan pembabatan hutan di wilayah pegunungan.

Ia juga menyayangkan, pada peristiwa serupa yang merusak jalan kantong produksi, Pemerintah Kabupaten Parimo sempat menjanjikan penangan sungai berupa bronjong sebagai upaya mengantisipasi dampak yang lebih parah. Sayangnya janji itu tidak direalisasikan.

“Kan dari kejadian pertama sudah kami sampaikan tapi tidak ada tindaklanjut, makanya saya sampaikan kalau tidak segera ditangani, ketika banjir kembali datang lebih berbahaya lagi. Hari ini sudah terbukti,” tegas Daud.

Sebab, Desa Bambasiamg terdiri dari 5 dusun, 3 dusun diantaranya berada di pegunungan. Dan 2 dusun lagi berada di lembah.

Namun, jika dipersentasikan menurut Daud, jumlah penduduk di 3 dusun itu lebih besar daripada di dua dusun.

“Jadi ada sekitaran 70 persen penduduk kita ini ada di pegunungan. Jadi skitar 30 persen di bawah sini,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, untuk salah satu rumah warga sengaja di bongkar agar tidak menghambut jalur air.

Pemdes Bambasiang merencanakan pemilik rumah akan di relokasi. Namun, Daud menyebut, pihaknya terlebih dahulu melakukan rapat.

Baca juga : Pemdes Bambasiang Bagikan BLT Tahap I kepada 56 KPM

banner 970x250