Scroll Untuk Membaca Artikel
ZONA Parigi Moutong

Kepala Balai Bahasa Sulteng: Literasi Anak Muda Harus Jadi Tradisi, Bukan Sekadar Aktivitas Sesaat

2602
×

Kepala Balai Bahasa Sulteng: Literasi Anak Muda Harus Jadi Tradisi, Bukan Sekadar Aktivitas Sesaat

Sebarkan artikel ini
Kepala Balai Bahasa Sulteng: Literasi Anak Muda Harus Jadi Tradisi, Bukan Sekadar Aktivitas Sesaat. Foto: IST

PARIMO, ZonaSulawesi.id — Budaya literasi di kalangan anak muda harus diperkuat agar tidak sekadar menjadi aktivitas sesaat, melainkan berkembang menjadi tradisi bahkan budaya. Kehadiran negara dalam mendukung komunitas literasi di daerah pun dinilai sangat penting.

 

Hal itu disampaikan Kepala Balai Bahasa Sulawesi Tengah, Dr. Syarifuddin, M.Hum, saat membuka kegiatan Berbagi Praktik Baik dalam Temu Pegiat Literasi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sou Mpelava, Sabtu (27/9/2025).

 

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari program Fasilitasi dan Pembinaan Kelompok Masyarakat: Apresiasi Bagi Komunitas Literasi Tahun 2025 yang diberikan oleh Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

 

Menurut Dr. Syarifuddin, tahun ini akan menjadi tolok ukur bagi pemberian bantuan literasi di masa mendatang. Karena itu, ia mendorong komunitas literasi untuk memperbanyak kegiatan serta memperkuat konsolidasi agar program seperti ini mendapat perhatian berkelanjutan.

 

“Negara hadir untuk mendukung bagaimana teman-teman mengelola komunitas literasi, terutama yang menyasar anak muda, agar mereka semakin dekat dengan buku,” jelasnya.

 

Ia menegaskan, literasi harus diarahkan menjadi sebuah tradisi, hingga akhirnya melekat dalam budaya masyarakat.

“Kalau sudah menjadi budaya, membaca bisa dilakukan di mana saja, bahkan di ruang yang sederhana,” tambahnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Syarifuddin juga membagikan pengalaman pribadinya saat menyelesaikan disertasi yang mencapai lebih dari seribu halaman. Menurutnya, pencapaian itu lahir dari kebiasaan membaca dan konsistensi mengakses ratusan sumber bacaan.

 

Ia bercerita, semasa pendidikan dirinya bahkan ditargetkan membaca dan mempresentasikan dua buku setiap hari. Kebiasaan itu diyakini mampu membangun daya ingat, menguatkan mental, sekaligus menjadikan literasi sebagai bekal berbicara dan menulis.

 

“Buku itu adalah kita sebagai pengarang atau penulisnya. Dengan tradisi membaca, kita akan lebih mudah mengingat dan percayadiri,” pesannya.