Oleh : Miftahul Afdal
Rona fajar perlahan memasuki kamar, membasuh wajah yang terlelap selama sembilan jam. Silaunya tak mampu dihalau, gelap beringsut menjadi terang. Semesta membangunkan saya dari peraduan, sekaligus membuka lembar perjalanan menuju wilayah yang jauh dari keramaian.
Diawali rasa syukur kepada Tuhan yang masih memberikan kesempatan untuk kembali membuka mata, rutinitas pagi berlangsung sederhana. Mandi, sarapan, lalu menenangkan pikiran sebelum menjalankan tugas yang sudah menanti.
Kartu tanda pengenal, rompi, stiker, spidol, perlengkapan pendataan, serta logistik diperiksa satu per satu. Semua tersusun dalam tas sebelum langkah diarahkan menuju Dusun 5 Ogotop, Desa Bambasiang, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong.
Hari tersebut membawa saya pada tugas sebagai Petugas Pendataan Lapangan (PPL) Sensus Ekonomi (SE) 2026. Agenda nasional yang berlangsung setiap dasawarsa tersebut diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memperoleh gambaran mengenai aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi seorang pendekar, pedang menjadi bekal sebelum memasuki gelanggang. Bagi PPL, telepon pintar Android menjadi perlengkapan penting ketika mendatangi rumah demi rumah. Hasil probing responden dicatat melalui aplikasi FASIH sesuai mekanisme pendataan SE 2026.
Namun, kisah ini bukan tentang aplikasi maupun perangkat digital. Cerita bermula dari langkah menuju daerah terpencil, tempat jarak dan kondisi geografis menjadi bagian dari pekerjaan. Ada satu tanggung jawab yang harus dibawa sampai tuntas, memastikan kehidupan masyarakat Ogotop hadir dalam pencatatan nasional.
Sebagai perpanjangan tangan BPS Kabupaten Parigi Moutong di lapangan, Setiap nama harus ditemukan, setiap sasaran perlu ditemui, dan setiap informasi yang diberikan masyarakat harus dicatat dengan cermat di Satuan Lingkungan Setempat (SLS).
Langkah pertama menuju Ogotop membawa suasana berbeda. Jalan yang semula mudah dilalui perlahan berubah menjadi lintasan berbatu dan menanjak. Kecepatan harus dikurangi, sementara perhatian tertuju pada setiap pijakan agar perjalanan tetap aman.
Bentang pegunungan kemudian mengambil alih pandangan. Pepohonan, lereng, dan udara yang lebih dingin menjadi teman sepanjang perjalanan. Di balik lanskap tersebut, rumah-rumah warga tersebar dengan jarak yang tidak selalu berdekatan.
Kehidupan di kawasan terpencil berjalan dengan ritmenya sendiri. Aktivitas mencari nafkah tetap berlangsung, meski akses menuju pusat desa membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, roda ekonomi masyarakat tetap bergerak.
Semakin dalam memasuki wilayah Ogotop, semakin terasa bahwa pendataan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengisi pertanyaan. Kesabaran diperlukan ketika mencari rumah responden, ketelitian dibutuhkan saat mencatat jawaban, dan keteguhan menjadi bekal ketika medan mulai menguras tenaga.
Keringat yang mengalir menjadi bagian dari perjalanan. Tanjakan panjang memaksa langkah berjalan perlahan, tetapi setiap rumah yang berhasil ditemukan menghadirkan kepuasan. Satu demi satu sasaran pendataan terjangkau tanpa membiarkan jarak menjadi penghalang.
Di balik setiap informasi terdapat cerita kehidupan. Petani dengan hasil kebun, pedagang dengan usaha sederhana, serta warga yang menggantungkan penghasilan dari berbagai pekerjaan menjadi bagian dari potret ekonomi Ogotop. Angka yang kelak tersusun dalam tabel sesungguhnya berangkat dari kehidupan nyata.
Kunjungan PPL mungkin hanya berlangsung beberapa saat di depan rumah warga. Namun, informasi yang dihimpun memiliki arti lebih panjang. Data tersebut dapat menjadi bagian dari gambaran ekonomi yang membantu melihat kondisi masyarakat dari wilayah perkotaan hingga pelosok pegunungan.
Sensus Ekonomi 2026 akhirnya terasa lebih dari sekadar kegiatan pencatatan. Ada perjalanan manusia di balik setiap formulir, ada waktu yang dikorbankan untuk menjangkau responden, dan ada harapan agar masyarakat di daerah terpencil tidak luput dari perhatian pembangunan.
Ketika tugas di Ogotop mendekati penghujung, rasa lelah bercampur dengan kepuasan. Medan terjal telah dilewati, rumah-rumah telah disambangi, dan nama-nama telah dicatat. Perjalanan tersebut meninggalkan kesadaran bahwa sebuah data tidak lahir begitu saja, ada langkah panjang di balik setiap angka.
Pada akhirnya, negeri bukan hanya kumpulan gedung, jalan raya, atau pusat ekonomi. Negeri juga hidup di balik lereng pegunungan, rumah sederhana, kebun, dan usaha kecil yang jauh dari sorotan. Setiap langkah menuju pelosok adalah cara untuk memastikan setiap kehidupan memiliki tempat dalam catatan bangsa, sebab pembangunan yang ingin menjangkau seluruh negeri harus terlebih dahulu mampu melihat mereka yang tinggal di tempat paling jauh sekalipun.






