Palu, Zona Sulawesi – Nasution Camang yang pernah menjadi Pimpinan Redaksi (Pimpred) Media cetak Media Alkhairaat (MAL) dan redaktur di sejumlah media cetak memberikan materi kepada sejumlah pemuda.
Adapun para peserta yang mengikuti materi itu dari Mahasiswa Ulatan, dan manajemen ZonaSulawesi.
Nasution Camang atau akrab dipanggil Tion salah satu wartawan senior yang pernah aktif pada tahun 1992 dan aktif di Yayasan Merah Putih (YMP) Palu, kemudian memilih masuk dalam Partai Politik Nasional Demokrat (Nasdem) di tahun 2011.
“Saya akan coba memberikan materi kepada teman-teman yang semoga masih relevan sampai saat ini dengan materi yang sudah cukup lama,”kata Tion di kantor Redaksi ZonaSulawesi.id, Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Senin (03/01/2021).
Pada kesempatan tersebut, Tion didampingi oleh sahabatnya, salah satu Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Ibrahim A Hafid.
Dalam materinya, Tion memberikan metode menulis efektif seperti tulisan yang layak diberitakan yaitu topik menari, materi tulisan jelas, dan gaya penulisan komunikatif.
Baca juga : Basarnas Palu Kirim Tim SAR Parigi Lakukan Pencarian Orang Hilang di Desa Sidoan Barat
Salah satu peserta, Irpan merasa senang dengan adanya pemberian materi dari Tion karena pentingnya menulis berita dan menjadi seorang jurnalis.
“Saya merasa senang dengan kegiatan ini, karena bagi saya menulis ini sangat penting apalagi jadi jurnalis untuk mengawasi kinerja pemerintah dan dapat berkontribusi untuk pembangunan daerah,” terangnya.
Nampak, antara pemateri dan peserta begitu interaktif dalam tanya jawab. Seperti seorang peserta bernama Arif Azhari yang begitu aktif bertanya.
“Bang Tion bagaimana memandang media online sekarang yang lebih mengejar kecepatan dibandingkan ke akuratan,” tanya Ari.
Tion menjawab, bahwa untuk menjadi seorang jurnalis diperlukan kecepatan dan ketepatan khususnya bagi media online.
“Sekarang ini memang lagi marak media online. Nah, bagi media online ini yang sangat penting adalah kecepatan dan ketepatan. Meski memang ada juga yang hanya berada di posisi kecepatan tapi seharusnya melengkapi hal itu dengan ketepatan,”jelasnya.
” Karena memang sekarang lebih banyak cari cepatnya dibandingkan ketepatan. Jadi kebanyakan yah viral dulu untuk klarifikasi belakangan, sebenarnya itu kan tidak boleh dalam etika jurnalistik. Hal itu diperbolehkan dalam keadaan tertentu tapi perlu ada keterangan lengkap,”tambahnya.






